Kamis, 25 Juli 2019

Renungan



Renungan. 
Matius 25 : 10-13


      Kita harus senantiasa siap sedia untuk bertemu dengan Tuhan di setiap saat. Memang di saat Kristus datang untuk yang kedua kali nanti semua orang akan bertemu dengan Tuhan. Saat itu Ia akan datang sebagai Hakim yang menghakimi semua orang, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Namun untuk bertemu dengan Tuhan orang tidak harus menunggu sampai Ia datang kembali ke dunia untuk yang kedua kalinya nanti. Sebab di setiap saat kita dapat saja harus meninggalkan dunia ini, yaitu ketika kita menghembuskan nafas yang terakhir. Sesudah itu kita tidak memiliki kesempatan lagi untuk bertobat. Yang ada hanyalah kita wajib mempertanggungjawabkan kehidupan kita kepada-Nya.


     Pentingnya senantiasa siap untuk bertemu dengan Tuhan ini antara lain dikemukakan oleh Yesus di dalam Matius 25. Di situ Ia mengumpamakan umat-Nya seperti sepuluh orang gadis yang menyongsong kedatangan seorang mempelai laki-laki. Kemudian Yesus berkata: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Dengan berkata demikian Ia menegaskan bahwa kita tidak akan tahu hari dan saat Ia akan datang kembali. Namun juga berarti kita tidak akan tahu kapan kita harus meninggalkan dunia ini. Oleh sebab itu kita wajib selalu bersikap siap sedia untuk bertemu dengan Tuhan di setiap saat.

Pertanyaan:

Sudahkah Aku dan kamu atau kalian sudah siap bertemu dengan Tuhan di setiap saat? Apakah yang akan lakukan untuk itu?
~~~~~

@pakiding

Tags. Siap, bertemu Tuhan, apa yang dilakukan.

Tujuan Hidup Yang Sebenarnya

Tujuan hidup yang sebenarnya


Yohanes 15:16 – Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi akulah yang memilih kamu. Dan aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Apa tujuan sebenarnya dari kehidupan kita; berlari di belakang kekayaan duniawi atau menabur benih perdamaian dan Injil? Kita membuat diri kita begitu sibuk di dunia yang penuh warna ini dan tersesat sampai-sampai kita benar-benar melupakan tugas-tugas Kristen kita dan tujuan untuk apa yang kita diutus di bumi ini. Memang, penting untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kita tetapi apa yang kita lakukan adalah menjadikan diri kita budak kemewahan. Kita tidak hanya menginginkan apa yang menjadi kebutuhan kita, tetapi kita berhasrat untuk memiliki lebih dari apa yang dibutuhkan, dan itulah jalan menuju pencobaan di mana iblis mulai memerintah pikiran kita dan kita berpaling dari Tuhan. Tuhan telah mengirim kita ke dunia ini untuk menabur benih-benih perdamaian dan Injil yang baik daripada menanam kebohongan dan tipu daya.
Tujuan dari pesan ini adalah untuk membangunkan hati nurani kita dan untuk membuat diri kita menyadari bahwa kita tidak boleh kehilangan arah yang benar dari tujuan hidup kita yang ditetapkan oleh Tuhan. Karena hanya dengan mengikuti jejak itu kita akan dapat menyenangkan Tuhan kita yang mengasihi dan menjamin tempat dalam kehidupan kekal.

Amin. 


By : David Rothfuss
https://www.jesuschristformuslims.com/id/tujuan-hidup-yang-sebenarnya/ 


~~~~~~~~~~~~~
@pakiding
Tags. Kehidupan didalam yesus, kehidupan kristen, Tujuan hidup, pedoman sejati

Jeritan Batin Ayub

Jeritan Batin Ayub




Ayub 34: 1-9

Aku benar, tetapi Allah mengambil hakku (Ayub 34:5)

Anda bisa merasakan apa arti ungkapan ayat di atas? Aku benar tetapi hakku dirampas. Ayub merasa dirinya tidak ada yang salah sehingga menjerit merasa diperlakukan tidak adil oleh Allah. Ayub memohon supaya Allah memperhatikannya, Berbaliklah, janganlah terjadi kecurangan, berbaliklah, aku pasti benar. (Ay. 6:29).
Bu, mana ada sih orang di dunia ini yang benar? Ayub saja berani beraninya berkata ia benar! Mari kita lihat Ayub 1:8, Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang sedemikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Siapa yang berkata di ayat ini? Tuhan Allah lho!
Jadi apa yang Ayub katakan pada ayat emas di atas adalah benar. Perkataannya adalah pergumulan batinnya: aku hidup benar. Aku telah menjauhi kejahatan.
Tapi kenyataannya, malah aku kehilangan harta. Aku pedih ditinggal mati anak anakku. Aku sakit parah yang menyiksaku. Aku dihina oleh istri dan teman temanku. Sekarang, Anda sudah mulai bisa merasakan perasaan Ayub dalam ungkapannya di ayat 5, bukan? Perkataan Ayub adalah sebuah jeritan, tangisan kepedihan, karena haknya terampas. Ayub tidak bisa mengerti. Ia protes kepada Tuhan.
Kita pun pernah mengalami banyak hal yang sulit untuk dimengerti di perjalanan hidup kita dalam mengikut Tuhan. Tenang, Kawanku, Anda tidak sendirian. Apa yang kita alami saat ini belum separah yang Ayub alami. Ayub kebingungan, ia bergumul tapi juga marah. Ayub juga salah kata karena penderitaan fisik dan jiwa membuat emosinya terguncang. Namun, Ayub tidak menyerah. Ayub tetap memandang Tuhan di tengah penderitaan jiwa dan fisiknya, bahkan sanggup berkata, Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (ay. 2:10b).
Ingatlah selalu bahwa Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan hidup kita, anak anak Nya, akan selalu lancar dan berjalan mulus. Namun, Yesus berjanji bahwa Dia akan memberi kekuatan (Flp. 4:13) dan penghiburan melalui Roh Kudus (2 Kor. 1:3 4). Tetap percaya, yakin, dan pegang janji Nya.
Pertanyaan :
Apa pengalaman masa lalu mengenai kekuatan dan penghiburan dari Tuhan yang memampukan Anda melewati pergumulan hidup?

~~~~~~~
@pakiding
Tags. mengikut Tuhan, Ayub memandang, Berjalan mulus, Janji Yesus.

Cemas

  Haiii bagaimana kabar kalian .... huaa pasti baik-baik saja yah. Gimana hari mu yang sudah berlalu, apakah menyenagkan ? pasti ada yang me...