Rabu, 11 Maret 2020

Dia ingat, bahwa kita ini debu




Dia ingat, bahwa kita ini debu.
Mazmur 103:14






           Seorang ayah muda terlihat mulai kehilangan kesabarannya. “Es krim! Es krim!” jerit anak balitanya. Kegaduhan di tengah mal yang ramai itu mulai menarik perhatian pengunjung lain di sekitarnya. “Ya nanti, kita cari keperluan Mama dulu ya, oke?” bujuk sang ayah. “Tidaaaak! Es krim!” Kemudian seseorang menghampiri mereka: wanita bertubuh mungil, berpakaian bagus dengan sepatu yang serasi dengan tas tangannya. “Ia sedang meluapkan emosi,” si ayah menjelaskan. Wanita itu tersenyum dan menjawab, “Sebenarnya, emosilah yang menguasai anakmu. Jangan lupa, ia masih kecil. Yang ia butuhkan adalah kamu tetap sabar dan berada di dekatnya.” Situasi tersebut tidak serta-merta berhasil diatasi, tetapi kehadiran wanita itu menjadi semacam jeda yang dibutuhkan oleh si ayah dan anaknya saat itu.


       Perkataan bijak wanita itu menggemakan kata-kata yang tertulis dalam Mazmur 103. Daud menulis tentang Allah kita yang “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (ay.8). Ia kemudian melanjutkan dengan memberi gambaran tentang ayah duniawi yang “sayang kepada anak-anaknya,” dan bahkan terlebih lagi “Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (ay.13). Allah Bapa kita “tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (ay.14). Dia tahu kita lemah dan rapuh.


        Kita sering gagal dan merasa kewalahan menghadapi segala sesuatu yang dilontarkan dunia ini ke arah kita. Namun, alangkah luar biasanya kepastian yang kita pegang, yakni mengenal kasih Bapa kita yang sabar dan selalu hadir dengan berlimpah ruah.

~~~~~~~~~~~~~~~
ig : @Pakiding_
#renungan_

Tunggu seoanjutnya.








Kamu semua adalah tubuh Kristus dan
 kamu masing-masing adalah anggotanya.
1 Korintus 12:27





        Jika kamu menyaksikan kompetisi rodeo—atraksi ketangkasan menjerat hewan dengan tali dan menaikinya, kamu akan melihat banyak peserta yang memiliki empat jari dan satu jari buntung yang seharusnya jempol pada salah satu tangan mereka. Cedera tersebut umum terjadi dalam olahraga ini, yaitu ketika ibu jari terbelit tali yang ujungnya tersambung dengan seekor lembu jantan berbadan besar. Dalam keadaan itu, ibu jari biasanya putus. Meskipun bukan cedera yang mengakhiri karir si atlet, tetap saja ketiadaan ibu jari itu berpengaruh besar. Cobalah menyikat gigi, mengancingkan kemeja, menyisir rambut, mengikat tali sepatu, atau makan tanpa menggunakan ibu jari. Ternyata, anggota tubuh yang kecil dan sering terabaikan itu memainkan peran yang sangat penting.
   

       Rasul Paulus menunjukkan skenario yang sama dalam gereja. Anggota-anggota gereja yang acap kali kurang terlihat dan kurang menonjol terkadang menerima sikap “aku tidak membutuhkan engkau” dari anggota lain (1Kor. 12:21). Biasanya hal itu tidak terucapkan, tetapi adakalanya dikatakan dengan terus terang.


     Allah memanggil kita untuk memperhatikan dan menghormati satu sama lain (ay.25). Setiap dari kita, tak terkecuali, adalah bagian tubuh Kristus (ay.27). Terlepas apa pun karunia yang kita miliki, kita semua saling membutuhkan. Sebagian dari kita adalah mata dan telinga, sementara sebagian yang lain adalah ibu jari. Namun, dalam tubuh Kristus setiap dari kita memainkan peran penting, terkadang lebih dari yang terlihat oleh orang.—John Blase


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tunggu Blogger selanjutnya, yang selanjutnya akan lebih Menarik lohhh.
ig : @pakiding_

Jika kalian ingin berbagi cerita. Silahkan komen di bawah nantinakan di hubungi.
#ayeeayeee

Cemas

  Haiii bagaimana kabar kalian .... huaa pasti baik-baik saja yah. Gimana hari mu yang sudah berlalu, apakah menyenagkan ? pasti ada yang me...